CHAPTER 2 : PELET JIN PANTAI SELATAN
PEREMPUAN GAIB
PENULIS OLEH
SIDIQ AKBAR NUGRAHA
PART 2
PELET JIN PANTAI SELATAN
“Eh, Dewi. Kamu harus hati-hati sama suamimu itu. Bapak curiga, kalau suamimu si Dennis main sama mainan gaib,” bapakku memang selalu curiga sama Mas Denis akhir-akhir ini. Karena perubahan sikap mas Dennis yang berubah 180 derajat.
“Opo toh pak? Bapak ini, jangan suka curigaan sama mas Denny iku loh,” kataku, menasihati bapak agar tetap percaya dan berhusnudzon kepada mas Dennis. Aku tidak ingin sampai terjadi pertikaian diantara kami berdua karena kesalahpahaman bapak dalam menanggapi perubahan sikap mas Denny.
“Sampeyan ini bagaimana sih toh pak? Jangan selalu berzudzon ke orang dengan cepat gitu. Mungkin, mantu kita lagi banyak masalah,”
Aku terus fokus menyuapi fathur dan aisyah sambil mendengar ibuku menasihati bapak.
“Sini ndo, biar ibu saja yang suap cucu ibu,” kata ibu
Lalu aku lanjut ke dapur iseng-iseng mencuci piring untuk mengalihkan fokus pikiranku ke ucapan bapak tadi. Namun di dapur justru aku bergumam. “Apa mungkin benar ucapan bapak? Bapak bisa merasakan niat atau aura seseorang. Ah, tidak mungkin. Itu semua diluar nalarku.”
“Udah mbak, jangan dipikirkan ucapan bapak. Bapak itu rada-rada gendeng,”
“Isssh wulan. Kebiasaan kamu ya, bikin kaget mbak aja. Untung aku nggak ada riwayat jantungan. Hush! Kamu ini sembarangan kalau ngomong,”
“Biarin aja, bapak habis ke lawang sewu loh mbak ikut pak de Sapto,”
“Ke lawang sewu!? Sama pak de Sapto!? Bukannya pak de sama bapak udah hijrah ikut jamaah tabligh?,”
“Alah, itu kan isu. Hoax tuh mbak. Gini mbak, jadi bapak sama pak de Sapto sebenarnya sempat hijrah. Tapi pak de Sapto ketemu lagi sama teman seperguruan mereka dulu. Si Kurawa, lantas pak de Sapto ajak bapak,”
“Lah lantas, uang 500 ribu yang aku kasih ke bapak!?,”
“Dipake ke lawang sewu mbak sama bapak,” kata Wulan sambil terus mengunyah duku yang dimakannya sedari tadi.
Aku langsung mencari bapak di ruang tamu untuk meminta penjelasan ke bapak. Sementara Wulan pura-pura kembali ke kamarnya
“Pak!! Bapak!!,”
“Ada apa toh ndo?,”
“Pak, kata Wulan bapak habis ke lawang sewu. Piye toh pak... pak? Aku pikir bapak sudah sadar,”
“Maaf ndo bapak ndak bilang ke kamu, memang bapak habis ke lawang sewu sama pak’le mu untuk tapa disana.”
“Astagfirullah aladzim... pak! Kenapa sih bapak kembali ke jalan kemusyrikan,”
***
“Eh, Dewi. Kamu harus hati-hati sama suamimu (Denny) itu. Suamimu itu sekarang punya banyak ajian,”
“Panjenengan ini piye toh pak? Bukannya kasih senang hati anakmu. Malah ngomong sembarangan,”
“Iyo, bapak ini gimana toh. Aku nanya sama bapak, kenapa mesti kembali ke jalan musyrik. Malah bapak alihkan pembicaraan. Malah bapak suruh aku jauh-jauh sama suamiku,”
“Iyo. Wes, bapak ngaku salah. Bapak itu kesana, cuma mau ziarah maqom guru sepuh aja. Sekaligus buang semua benda pusaka yang bapak simpan,”
“Loh. Kok jauh banget sih pak, kenapa nggak ikut ruqyah aja sih pak?”
“Di kampung memang sempat ada ustadz datang praktek ruqyah selama tiga hari. Tapi waktu itu bapak ada wonosobo, bapak lagi ada kerja di proyek bangunan.”
***
Sesekali ketika sedang bicara bapak masih menghisap rokoknya dan menghembuskannya kembali. “Kamu itu harus menjaga kehamilanmu. Ingat selalu bawa gunting, peniti, jarum pentul sama tusuk konde dikantong. Utamanya maghrib, supaya anakmu nggak disentuh sama jin.”
Rush... rush... “suara roda koper,”
BEEP... BEEP...
“Yuk pak mobil grab udah nunggu di depan,”
“Loh pak, buk. Kok bapak sama ibu buru-buru pulang? Ono opo toh?,”
“Bapak sama ibu ada pesta dirumah bu dek Marni mu. Cucunya mau aqiqah. Anaknya si Wiwit,” kata ibuku
“Bapak sama ibu nggak nunggu mas Deni pulang dulu?,”
“Nggak usahlah. Bapak sama ibu takut kemalaman nanti,”
“Ingat pesan bapak yang tadi. Nanti bapak telepon pak de Sapto mu datang kesini. Bapak khawatir sama keselamatanmu,”
“Nggak usahlah pak. Dewi gak percaya sama yang gitu-gituan. Kita pasrahkan saja sama gusti Allah, minta pertolongan,” kataku berusaha menghilangkan kecemasan bapak.
***
“Yo weslah pak, nanti kita kesiangan. Dewi, ibu sama bapak pamit pulang dulu ya sayang ya. Wulan! Ibu sama bapak pamit pulang dulu ya. Jaga baik-baik mbak yu mu,”
“Iya bu!,” sahut Wulan yang masih asyik bermain instagram di hpnya
Setelah berpamitan ibu dan bapak pergi.
“Wulan. Nanti kamu lanjutin beres-beres rumah ya. Mbak mau istirahat dulu, nanti aisyah sama fathur gorengin burger, sosis sama kentang aja untuk kalian bertiga ya. Mbak mau istirahat dulu,”
“Ya mbak,”
“Jangan lupa kunci pintu kalau masuk!,”
***
Siang itu jam menunjukkan pukul 14.03 WIB “Praaaang!,” terdengar suara barang pecah belah jatuh di dapur.
“Siapa disana!? Ada orang!? Lan.. Wulan,”
“Iya mbak, ada apa mbak?,”
“Kamu habis dari dapur?,”
“Nggak mbak. Dari tadi Wulan tidur dikamarnya fathur sama aisyah. Emang kenapa mbak?”
Tiba-tiba perasaanku jadi tidak enak. Aku kembali ke dalam kamar, perasaanku jadi tak karuan. Aku semakin cemas karena mas Deni belum pulang, sementara kami hanya tinggal berempat aku dan adikku, Wulan serta kedua balitaku Fatur dan Aisyah. Aku mengambil ponselku, mencari nomor darurat yang bisa kuhubungi. Aku takut kalau saja tadi itu adalah pencuri. “Bruuuuuk! Kreeeet,” tiba-tiba terdengar suara seperti ada orang baru saja keluar dari pintu depan.
“Siapa itu!?,” buru-buru aku mengambil tongkat pemukul bisbol milis mas Deni dan turun ke bawah.
Namun saat aku melihat ke depan tidak ada orang disana. Dewi kemudian menuju dapur. Namun, sekali lagi tak ada orang yang lewat disana.
BEEEP... BEEEP. (suara klakson motor terdengar, menandakan Deni sudah tiba dirumah)
“Loh mas kamu kok baru pulang?,”
Mas Deni tidak menjawab pertanyaanku. Gerakannya dipercepat. Mas Deni mengambil koper dan beberapa pasang baju.
“Loh? Mas, kamu mau kemana?,”
“Aku mau ke parangtritis! Ada urusan,”
“Urusan apa mas!? Kok kayak ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku.”
“Minggir. Minggir kataku!,”
***
“Mas... jangan pergi mas... mas!”
Beep.. beep...
***
Malam itu hujan turun sangat lebat “Traaaash!,”
“Mbak! Mbak...,”
“Ada apa sih Lan, teriak-teriak.”
“Iku loh mbak. Aisyah, badannya panas banget.”
“Ya Allah Aisyah,”
***
“Yah... ayah.. ayah,”
***
BERSAMBUNG
Comments
Post a Comment