CHAPTER 1


PEREMPUAN GAIB

PENULIS OLEH

SIDIQ AKBAR NUGRAHA

















ANTOLOGI :
Perempuan adalah sutra yang jasad dan raga serta hatinya selembut kapas, seputih mutiara dan sebening kristal. Gaib diambil dari bahasa arab Al-Ghaib’i yang artinya tidak terlihat merujuk pada keterangan kehadiran atau penampakan/aktivitas makhluk halus (setan dan bangsa jin). Perempuan gaib bercerita tentang seorang lelaki sebut saja Deni yang jatuh cinta kepada perempuan dari bangsa jin bernama Nindia. Hikmah dalam cerita ini bahwa tidak sepantasnya kita sebagai manusia meminta pertolongan dari setan, bangsa jin dan iblis. Manusia sebagai makhluk Allah, memiliki kedudukan yang lebih mulia dibanding makhluk ciptaan Allah SWT lainnya. Manusia sebagai makhluk yang lemah diwajibkan untuk senantiasa berlindung dari Allah SWT dari tipu daya setan. Dalam cerita ini kita akan melihat bagaimana rapuh iman seorang lelaki dari bangsa manusia yang merendahkan dirinya dengan menikahi setan, hanya untuk memperoleh kesuksesan, kekayaan dan kehormatan duniawi. Latar dalam cerita ini adalah pantai Parangtritis, Yogjakarta

Kendari, 14 April 2020
Author















Kukuruyuuuuuk!!
Allahu akbar... allahu akbar!! Allahu akbar... allahu akbar. Ashyadu anlah ilaha illallah... ashyadu anla ilaha ilallah.... ashyadu ana muhammadan rasulullah... ashyadu ana muhammadan rasulullah.... haiyalal sollah... haiyalal sollah... haiyalal fallah... haiyalal fallah... assolah tu khairum mina na’uf.... assolah tu khairum mina na’uf... allahu akbar... allahu akbar lailaha illah ilallah.
***
“Mas... bangun mas,”
“Hmm...,”
“Bangun mas, sholat subuh.”
“Apa sih!? Dewi, kamu nggak liat aku baru tidur. Hah,”
“Iya mas, tapi mas sholat subuh dulu ya mas.”
“Aku bilang sebentar.. ya sebentar!,”
Buuuk...
***
Perkenalkan aku Dewi dan ini adalah kisahku bersama mas Deni. Dahulu mas Deni adalah pria yang lembut, sosok ayah yang penuh cinta kasih. Namun sejak beberapa bulan ini sikapnya mulai berubah. Aku tau mas Radit punya masalah di kantor. Ia pernah ditegur oleh manejer di perusahaannya karena salah membuat laporan sehingga membuatnya sakit hati. Padahal yang kutau, selama kami pacaran hingga berumah tangga, mas Radit adalah orang yang pendiam, tidak suka neko-neko, lembut dan santun. Namun tegas dan to the point jika bicara kepada orang, mas Radit juga berwibawa diluar rumah dan penyanyang di dalam rumah.
Hari ini. Minggu, 15 Maret 2020. Tidak seperti biasanya mas Radit selalu bangun dipagi hari mengurus rumah karena hari ini hari libur dan memang mas Deni selalu membantuku. Dahulu mas Deni selalu membantuku mengurus rumah dan anak-anak kami yang masih kecil. Bahkan hampir semua urusan rumah tangga, kecuali di dapur. Semuanya mas Radit yang tangani. Namun sudah enam bulan semua aku kewalahan sendirian bekerja menangani urusan rumah. Mulai mengurus dapur hingga anak-anak semuanya kulakukan sendirian. Disisi lain, aku juga harus tetap menjaga kehamilan anak ketiga kami yang sudah masuk bulan kelima. Waktu menunjukkan pukul 11.44 WIB semua pekerjaan akhirnya selesai kukerjakan sendiri, selesai menjemur pakaian aku masuk ke dalam. Mas Deni baru keluar kamar. “Mas, mas hari ini mau sarapan apa? Semuanya sudah tersedia di atas meja,” sekarang mas Deni bagaikan raja.

“Bikinkan aku kopi, gulanya sedikit aja,”
“Tunggu sebentar mas, aku masak air dulu.”
***
Selesai membuatkannya kopi aku menaruhnya di samping mas Deni yang sedang sarapan
“Ini mas, kopinya.”
“Ya, taruh aja disitu!,”
Mas Deni mulai menyeruput sedikit kopi buatanku
Byuuuursh...
“Kopi apaan ini!? Kamu bisa becus nggak sih jadi istri!?,”
“Loh mas, mau kemana mas?,”
“Kamu tuh ya. Jadi istri berisik banget.”
Mas Deni membunyikan motornya dan langsung keluar rumah. Cukup lama aku menunggu mas Deni pulang, hingga sore mas Radit belum juga datang. Menjelang maghrib saat itu aku mulai beres-beres. Pekerjaan mengurus rumah dan anak-anak sangat melelahkan. Selesai aku memandikan Aisyah dan Fathur, aku bersiap-siap mandi dan sholat maghrib. Tiba-tiba, terdengar suara yang cukup keras dari dapur
Paaaaak!, seperti suara orang yang menutup jendela dapur dengan cukup keras. Namun, saat aku ke dapur untuk memastikannya. Tidak ada siapa-siapa disitu. Hari semakin larut tapi mas Deni belum juga pulang. Pukul 23.30 WIB suasana mistis terjadi dirumah. Tiba-tiba, angin bertiup sangat kencang jendela-jendela terbuka, pintu-pintu mulai terbuka dengan sendirinya, tiba-tiba listrik pun padam, kilat dan petir saling bersahut-sahutan menyambar. Malam itu bulu kudukku merinding. Langsung saja aku berlari ke kamar anakku Aisyah dan mulai membaca ayat-ayat Al-Quran. Malam itu perasaanku tak tenang. Beberapa saat kemudian, lampu pun menyala, angin kencang yang sedari tadi bertiup dan membuat jendela jadi  berisik, tiba-tiba kembali bertiup dengan lembut dan tenang sedia kala. Segera aku keluar untuk mengunci kembali pintu dan jendela yang tadi terbuka. Pukul 00.30. Saat di dapur tiba-tiba sebuah bayangan hitam melintas dibelakangku, aku menjadi sangat ketakutan. Segera aku membaca ayat-ayat yang ku hafal. Terdengar suara motor masuk ke dalam rumah, segera aku membukakan pintu untuk mas Deni. “Loh. Kok kamu baru pulang sih mas jam segini?,”
“Aku habis ketemu teman tadi,” jawab mas Deni dengan datar
“Mas udah sholat?,”
Mas Deni hanya mengganguk. Mukanya masih datar. “Aku siapkan makan malam ya mas?,”

“Nggak usah, aku habis makan. Habis ditraktir sama teman tadi. Udah kamu jangan bawel, jangan berisik. Aku mau mandi. Aku mau tidur dikamar itu,” mas Deni menunjuk pada sebuah kamar kosong khusus untuk tamu. Namun entah mengapa tiba-tiba kamar itu dibersihkan dan selalu diberi wewangian serta lilin aroma terapi, AC-nya selalu dinyalakan. Namun anehnya kamar selalu gelap dan kunci selalu dibawa mas Deni. Bahkan mas Deni sering naik pitam jika melihat ada orang yang mencoba masuk ke kamar tersebut bahkan diriku dan anak-anakku tidak diizinkan mas Deni untuk mendekat apalagi coba-coba masuk ke kamar tersebut.
Suatu saat orangtuaku datang membawa adikku Wulan yang rencananya sudah mulai kuliah tahun ini dan akan menatap bersama kami.
“Monggo pak, bu. Masuk, kamar kalian sudah siap.”
***
Tiba-tiba mas Deni menegurku dengan keras di depan orangtuaku “Eh... eh, se.. se. Enak aja masuk-masuk kamar. Semua kamar dirumah ini boleh kalian tempati, asal jangan yang ini. Bapak sama ibu dan Wulan tidur diatas,”
“Sudah ndo, biar bapak dan ibu sama Wulan tidur diatas juga. Ndak apa-apa,”
“Sampeyan ya mas, berani sampeyan sama kakakku,” Wulan angkat bicara. Dirinya yang masih polos, belum tau kalau masnya sudah bukan mas Deni yang dahulu lagi. Dulu Mas Deni sangat menghargai orangtua dan selalu menjaga etika
***
“Mas, bisa nggak aku minta tolong,” baru saja aku berkata seperti itu Mas Deni yang sedang menyeruput kopi tiba-tiba bangkit
“Apa kamu bilang!?,”
Plaaak!, sebuah tamparan keras mendarat dipipiku. Aku langsung tersungkur. Bapakku yang melihat mas Deni menamparku spontan mengambil golok yang sengaja ia bawa “Deni!, lancang kowe, hah! Berani tenan kowe mukul anakku,”
“Sudah pak... sudah,” aku langsung menahan bapakku untuk berbuat nekat
“Hahaha... eh pak tua! Ilmu sampeyan itu cetek bagiku,” sorot mata mas Deni tiba-tiba berubah menjadi menggerikan
“Eh, Deni! Simpan ilmu apa sampeyan? Wali apa yang sampeyan punya hah?,”
“Hahaha,” tanpa menjawab pertanyaan bapakku mas Deni beranjak masuk ke dalam dan menggendong Fathur. Seketika aku merasa cemas jika mas Deni dekat-dekat dengan Fathur dan Aisyah

Malam pun datang. Seperti biasa selesai makan malam Mas Deni masuk ke kamar pribadinya dan melakukan aktivitas yang tidak ku ketahui. Tidak ada suara disana.
“Eh, Dewi. Sepertinya suamimu itu punya “Kamar Gaib” dirumah ini,”
“Kamar Gaib, opo toh pak... pak. Bapak ini ada-ada saja. Mungkin mas Deni masih stress gara-gara dimarahin sama bosnya,” jawabku menenangkan hati bapak. Sebenarnya aku juga curiga, entah apa yang dilakukan oleh suamiku di dalam.
“Aaaaaa!,”
“Ibu, astagfirullah aladzim pak. Ibu kenapa,”
“Ibu tadi habis lihat ular raksasa,”
***
“Aduuuuh! Ada apaan sih!? Berisik banget!? Ganggu orang tidur aja,”
“Ibu tadi habis lihat ular mas, coba deh kamu periksa. Siapa tau ularnya masih ada disekitar sini,”
“Ular? Hahaha... mana ularnya? Aku nggak lihat tuh? Eh, bu. Makanya kalau mau tidur tuh baca doa,”
“Iya juga sih. Ibu memang lupa baca doa,” ibu langsung mencari alasan karena tak ingin memperkeruh suasana.
“Sudah... sudah, bu biar bapak ambilkan air putih ya. Dewi kamu disini aja temani ibumu,”
“Ya pak,”
***
Keesokan paginya seperti biasa setelah selesai sarapan mas Denis langsung berangkat kerja. Tidak seperti dulu, biasanya mas Denis selalu mengecup atau mengelus rambut dan perutku ketika akan berangkat kerja. Karena tidak ingin berpikir aneh-aneh selama aku hami, aku mengalihkan pembicaraan kami. “Mas, kamu udah sholat dhuha?,”
“Iya. Nanti aja di kantor,” mas Denis menjawab dengan datar



BERSAMBUNG .

Comments